Hat’ittude by Benoît Missolin
Dalam rangka Printemps Français 2010, CCF Jakarta menyelenggarakan sebuah pagelaran busana dan pameran mode di Lamoda Café, di Plaza Indonesia, tanggal 21 Mei 2010 yang menghadirkan koleksi Benoît Missolin dengan judul Hat’ittude.
Pada peragaan busana yang unik ini, perancang mode Benoît Missolin bekerjasama dengan desainer muda berbakat asal Indonesia, Stella Rissa dan desainer terkenal Barli Asmara.
Melalui warna-warna yang berani, motif-cetak yang berjoget dan sulaman yang berirama, Benoît Missolin menggubah mode pop yang bercengkrama dengan klise-klise menjadikan kreasi etalase topi yang terbuat dari perca syal-syal, etalase telinga kelinci, aksesoris yang funky dan flashy. Berkiblat pada Christian Lacroix, Jean Colonna, Thierry Mugler dan Fred Sathal. Benoît Missolin menggubah mode pop menjadi lugu dan lincah yang bercengkrama dengan klise-klise.
Desainer muda Indonesia penuh talenta, Stella Risa memadukan gaya modern dengan sentuhan Haute-Couture secara inovatif sehingga kreasinya terlihat sangat pas, mengikuti lekuk tubuh wanita secara sempurna. Anggun dan bersemangat merupakan kata-kata yang tepat dalam mendeskripsikan karya perancang yang membuat pakaian bagi wanita masa kini, penuh percaya diri dan bahagia. Sedangkan Barli Asmara, karyanya penuh ketelitian, mencerminkan citra Indonesia yang modern dan perkembangan sisi artistik.


Ketiga desainer ini didukung oleh grup L’Oréal Professionnel, make-up dari Yves Saint Laurent dan sekolah mode ESMOD Jakarta.

Acara pagelaran busana ini juga dimeriahkan dengan penyerahan doorprize mendapatkan komestik dari Yves Saint Laurent dan voucher menginap di Hotel Haris Bali serta grand prize mendapatkan tiket PP ke bali menggunakan AirFrance.
Decyno Design for Be3
Konsep design yang dibuat untuk Be3 oleh Decyno adalah mengangkat tema Go Green dengan merangkai ikatan dari tanaman bunga. Mulai dari adanya akar dan batang pohon akan tumbuh daun dan bunga, sehingga mengibaratkan ikatan personil Be3 yang satu sama lain tidak dapat terpisahkan.
Design 1. Tube Dress Flower (beauty). Bentuk kelopak bunga yang ditonjolkan di sekitar dada, dan menggunakan bahan bustier untuk dada sampai ke pinggul dengan hiasan mote jepang timbul secara vertikal di bagian depan, dari pinggul kiri sampai paha sebatas dengkul juga terdapat kingkaran kelopak bunga di setiap deretan lengkungan. Bagian belakang terdapat motif brokat yang ditengahnya diberikan 1 kelopak bunga yang sama seperti di depan.
Design 2. Tube Dress Leaf (simplicity). Memperlihatkan aksen dan aksesoris dari bentuk daun di setiap sisi dress dari atas sampai bawah.
Design 3. Tube Dress Root (strength). Memperkuat bentuk akar yang melilit di setiap sisi dress dengan aksen yang tegas.
Dan reaksi Be3 saat melihat design decyno mengasyikan, dengan suasana kekeluargaan, Cynthia menanyakan Apakah Decyno sudah produksi, tentu saja dijawab pastinya akan (InsyaAllah) tapi saat ini baru bisa memberikan ide-ide yang dituangkan di design yang berkonsep. Seperti yang diberikan kepada Be3.
Semoga Be3 puas dengan Decyno design dan Decyno tidak akan berhenti membuat sesuatu yang unik kedepannya.
Dinner with Be3 di Majalah Cita Cinta
Liputan Dinner With Be3 di Majalah Cita Cinta, pada hari Senin, tanggal 26 April 2010.

“Exclusive Showcase & Dinner with Be3″
Review : 13 Agustus 1993, AB Three berdiri dengan formasi Widi Mulia (Widi), Riafinola Ifanisari (Nola) dan Lusi Rachmawati (Lusi). Trio vokal ini dikenal lewat prestasi mereka di ajang Asia Bagus dan berbagai festival. Di tahun 2000, Lusi mengundurkan diri dan digantikan oleh Cynthia Lamusu.Hingga saat ini mereka telah mengeluarkan lima album dan meraih tujuh penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI). Di awal tahun 2009, mereka mengganti nama AB Three menjadi Be3 (baca: bi tri) dan sekarang siap meluncurkan lagu baru.
“Be3 merupakan perwujudan solid dari ‘Becoming 3′ alias kami bertiga seutuhnya. Dan selama ini, Be3 dikenal lewat lagu-lagu pop bertema cinta seperti ‘Kerinduanku’(1996), ‘Nyanyian Cintamu’(1999), dan ‘Selamat Datang Cinta’(2006). Nah, masih dengan benang merah pop romantis dan kekuatan harmonisasi vokal khas mereka, kali ini Be3 siap merilis single mereka “Cinta Sampai Mati”, bekerjasama dengan digital label dr.m (baca: dokter m).
Tema lagu ini tentang hubungan cinta yang harus dipertahankan meski mendapat berbagai cobaan. Lewat lagu”Cinta Sampai Mati” Be3 ingin membuktikan bahwa mereka masih mampu memikat penikmat musik tanah air. Apalagi kualitas vokal dan aksi panggung Be3 sudah sangat teruji.
Untuk lebih mendekatkan kepada para fansnya, Be3 memberikan warna berbeda dalam mempromosikan single terbarunya dengan membuat Story Competition melalui website cintasampaimati dan dengan fasilitas chat live bersama personil Be3. Bahkan melalui kuis interaktif yang setiap saat bisa muncul di fan pagenya melalui facebook dan twitter.
Pemenang dari Story Competition dan kuis melalui fan page Be3, mendapatkan hadiah yang dibagikan di acara “Showcase & Dinner with Be3″ pada tanggal 27 Maret 2010 di Restoran BIN 17, Menara DEA. Be3 juga memberikan kejutan pada fansnya untuk mendengarkan 3 materi lagu baru yang akan ada di album terbarunya.
Inilah bentuk keakraban antara Be3 dan fansnya di acara showcase dan dinner bareng be3.
Dan lewat lagu”Cinta Sampai Mati” Be3 ingin membuktikan bahwa mereka masih mampu memikat penikmat musik tanah air. Apalagi kualitas vokal dan aksi panggung Be3 sudah sangat teruji.
Industri ”Fashion” Semakin Kompetitif
Saatnya Membangun Potensi Merek Lokal

JAKARTA – Sesuai rencana yang dikemukakannya ke SH pada acara Jakarta Fashion & Food Festival 2004 di Kelapa Gading, kini perancang busana Poppy Dharsono dan owner Golden Truly, Keny Wirya, telah melahirkan Indonesia International Fashion Institute (IIFI) yang berkampus di Plaza 5 Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Penerimaan siswa baru IIFI yang akan dilakukan Maret 2005, memuat janji edukasi menuju lahan profesi yang bermasa depan cerah. Itu sangat mungkin terjadi, ungkap direktur pengembangan akademis IIFI Dono Murdiyanto, karena IIFI mengutamakan pelajaran fashion retail (ready to wear) dan potensi lokal Indonesian-brand agar mampu bertarung di pasar global.
Menurutnya, produk bermerek dari fashion designer lokal memang telah ada, namun program pendidikan dari IIFI bermaksud menghasilkan kualitas harga jual bisa tetap premium dengan memakai brand nama sendiri.
”Merek dan prizing harus dikedepankan, di samping juga mutu desain fashion. Agar perancang busana bisa menikmati keuntungan dengan baik,” sambung Dono.
Di tengah iklim industri fashion yang kian kompetitif, papar Poppy Dharsono, kini pemahaman pangsa pasar, kualitas material, pemanfaatan media sebagai sarana promosi dan pemasaran, menjadi sama pentingnya dengan aspek kreativitas desain produk fashion.
IIFI lahir untuk menjawab tantangan tersebut, ujar Poppy selaku presiden direktur. Sebagai institusi pendidikan, lanjutnya, IIFI bertujuan menghasilkan lulusan yang tidak saja menguasai potensi lokal yang ada di Indonesia, namun juga kreatif dan memiliki wawasan global di bidang fashion. Selain itu, lulusan IIFI memiliki sense of business yang tinggi, serta terbekali dengan intuisi tajam dalam pemasaran.
Segalanya itu tergambar melalui slogan: Integrating Creativity and Business. Lebih lagi untuk mengukuhkan IIFI sebagai lembaga pendidikan fashion berkualitas, IIFI menjalin kerja sama dengan Edexcel, sebuah lembaga sertifikasi dari Inggris yang mempunyai reputasi internasional. Ini artinya, ditambahkan Dono, kurikulum yang digunakan IIFI adalah sesuai yang dipakai oleh sekolah-sekolah fashion di Inggris.
Berbeda dengan kurikulum ESMOD dan LaSalle (di Jakarta), lanjut Dono, karena IIFI memakai kurikulum langsung dengan pendidikan tinggi Inggris. Jenjang pendidikan di IIFI mengacu pengertian pada produk pasar. ”Siswa dilatih dan dididik untuk memahami permintaan pasar. Di masa akhir pendidikan, siswa diuji coba membuat produk fashion sendiri di pasar retail. Jadi siswa tidak sekadar ahli mendesain baju, namun sekaligus mampu membuat produk yang ngejual,” ditegaskannya.
Dia mencontohkan kenapa produk Spanyol, Mango bisa bersaing di pasar internasional karena mereka telah memahami makna brand product. Pemahaman nilai brand product masih kurang di Indonesia, itulah mengapa desainer Indonesia masih jarang masuk ke pasar retail yang masih dominan dikuasai asing.
Di samping itu IIFI juga dirasa perlu untuk menjalin kerja sama dengan Prasetya Mulya, sebuah lembaga manajemen nasional yang menyelenggarakan program-program terkait dengan bisnis dan pengelolaan usaha.
IIFI menawarkan tiga program pengajaran, berupa fashion design, fashion merchandising, dan fashion journalistic. Struktur pendidikan yang digunakan IIFI, jelas bermaksud memudahkan siswa ketika nanti harus langsung menghadapi pasar fashion. Untuk itu, IIFI sengaja memakai kurikulum yang fleksibel dan adaptif.
Agar bisa memodifikasinya sesuai kebutuhan pasar lokal, demikian Dono, siswa harus juga menguasai sejarah fashion Indonesia. Dengan begitu, sambungnya, struktur kurikulum pendidikan tinggi yang dipakai tidaklah berpedoman tersendiri, karena diharapkan bisa membikin resep pengajaran berkombinasi antara desain fashion dan retailer, program diploma Inggris, dan pemahaman tentang brand product.
Dengan pertumbuhan industri aparel nasional yang menghasilkan nilai triliunan rupiah, jelas saja kini Indonesia semakin perlu memiliki perancang busana yang ahli sekaligus memahami usaha fashion, pandai mengelola bisnis dan sistem pemasaran, serta mampu melahirkan dan mengelola brand produk fashion.
Source : Copyright © Sinar Harapan 2003
News Update : Terkait berita di atas adalah IIFI untuk di tahun ini telah berganti nama menjadi Sekolah Mode Poppy Dharsono dan saat ini sudah berjalan 1 tahun.
Amy Atmanto dalam Program Pemberdayaan
Amy Atmanto Mengajar Menjahit dan Memayet
Perancang busana Amy Atmanto, 35 tahun, tak mau hanya larut dalam dunia kreatif dan berkutat keras memanjangkan langkah bisnisnya. “Saya menganut prinsip hidup seimbang. Tahun lalu Amy Atmanto menjalankan program khusus.
Amy menjelaskan program khusus yang ditekuninya adalah program pengajaran luar sekolah berupa pemberian pendidikan teknik-teknik dasar menjahit dan memayet. Programnya didukung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang berempati pada nasib anak-anak yang kurang beruntung tidak bisa sekolah. “Karena program ini membidik anak-anak di atas 15 tahun, maka metodenya memberi keterampilan sebagai bekal menjalani hidup di masa mendatang.”
Amy bersama Depdiknas ke daerah-daerah yang berpotensi memiliki anak-anak yang bisa disertakan. “Pekerjaan ini sangat menyenangkan. Ada banyak kejutan cerita yang menyemburatkan perasaan empati dan upaya buat menyemangati mereka,” ujar pemilik Rumah Royal Sulam dan Royal Kaftan ini.
Sebelumnya, desainer kebaya gaun untuk Miss Universe 2007, Riyo Mori, ini memperoleh penghargaan dari Kementerian Budaya dan Pariwisata untuk kategori tokoh yang mensukseskan Visit Indonesia Year 2008 dari perannya yang turut melestarikan dan mengembangkan aset budaya bangsa. Tahun ini Amy didapuk menjadi ikon Blackberry Indosat untuk kategori bisnis.
“Semua selalu saya syukuri, mendapat berbagai kesempatan indah yang dipercaya Tuhan,” tutur Amy dengan suara merendah. Di sisi lain, dia tertantang ingin melakukan pemberdayaan bagi banyak orang, seperti anak-anak yang kurang beruntung, lewat program itu. Wah, perlu ditiru, nih!
Source: TEMPO Interaktif, Jum’at, 20 Februari 2009
12 Kebaya Anne Avantie di JFW 2009
Rancangan kebaya Anne Avantie yang terkenal selalu tampak glamour, mewah, seksi, namun tetap sesuai dengan identitas perempuan Indonesia.
Di Jakarta Fashion Week 2009, dalam rancangan kali ini detail payet dan kristal pun masih memperindah kebaya-kebaya Anne dan dipadukan dengan motif batik Jawa Tengah yang dijadikan dalam satu kain semakin menarik.
Meskipun Anne Avantie tidak bisa menjahit, mendesain dan menyulam tetapi dengan model Inspirasi Anne dipuji oleh para desainer Dunia.
(Kutipan kata dari M.S.Alley)
Source: detikhot.com (16/11/2009)
Tren Gradasi Ombre
Bergaya dengan satu warna? That’s so last year. Ayo bergaya lebih warna dengan gradasi Ombre!
Jika Anda datang ke suatu pusat perbelanjaan dan melihat corak dua sampai tiga gradasi warna itulah yang disebut dengan tren Ombre. Ombre berasal dari bahasa Perancis. “Ombrer” yang berarti ‘to shade’ atau bergradasi.
Ombre sendiri menampilkan efek gradasi beberapa warna dari warna terang menuju warna yang lebih gelap. Ombre merupakan koleksi tren tahun 2008. Gradasi ombre langsung tumbuh dengan sangat pesat. Beberapa desainer juga ikut memasukkan motif ombre dalam membuat karyanya, seperti Reem Acra dan Kimora Lee Simmon.
Semakin menyebarnya tren motif gradasi ini membuat ombre tak hanya menjadi corak sebuah kain pakaian. Brand fesyen ternama Prada dan Guess juga terkena wabah ombre. Banyak koleksi fesyen terbaru mereka yang bergradasi warna khas ombre.
Efek glamour yang dipancarkan oleh motif Ombre ini juga menjadi incaran para selebritis. Bahkan anting berlian bermotif ombre menjadi sangat menakjubkan. Dan belakangan ini motif ombre juga sering djumpai dalam produk interior ruangan seperti seprai, taplak meja dan lukisan karena motifnya memang cenderung cocok untuk diaplikasikan di berbagai produk.
Test Post from detikhot.com. Date: 07/11/2008

