Industri ”Fashion” Semakin Kompetitif
Saatnya Membangun Potensi Merek Lokal

JAKARTA – Sesuai rencana yang dikemukakannya ke SH pada acara Jakarta Fashion & Food Festival 2004 di Kelapa Gading, kini perancang busana Poppy Dharsono dan owner Golden Truly, Keny Wirya, telah melahirkan Indonesia International Fashion Institute (IIFI) yang berkampus di Plaza 5 Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Penerimaan siswa baru IIFI yang akan dilakukan Maret 2005, memuat janji edukasi menuju lahan profesi yang bermasa depan cerah. Itu sangat mungkin terjadi, ungkap direktur pengembangan akademis IIFI Dono Murdiyanto, karena IIFI mengutamakan pelajaran fashion retail (ready to wear) dan potensi lokal Indonesian-brand agar mampu bertarung di pasar global.
Menurutnya, produk bermerek dari fashion designer lokal memang telah ada, namun program pendidikan dari IIFI bermaksud menghasilkan kualitas harga jual bisa tetap premium dengan memakai brand nama sendiri.
”Merek dan prizing harus dikedepankan, di samping juga mutu desain fashion. Agar perancang busana bisa menikmati keuntungan dengan baik,” sambung Dono.
Di tengah iklim industri fashion yang kian kompetitif, papar Poppy Dharsono, kini pemahaman pangsa pasar, kualitas material, pemanfaatan media sebagai sarana promosi dan pemasaran, menjadi sama pentingnya dengan aspek kreativitas desain produk fashion.
IIFI lahir untuk menjawab tantangan tersebut, ujar Poppy selaku presiden direktur. Sebagai institusi pendidikan, lanjutnya, IIFI bertujuan menghasilkan lulusan yang tidak saja menguasai potensi lokal yang ada di Indonesia, namun juga kreatif dan memiliki wawasan global di bidang fashion. Selain itu, lulusan IIFI memiliki sense of business yang tinggi, serta terbekali dengan intuisi tajam dalam pemasaran.
Segalanya itu tergambar melalui slogan: Integrating Creativity and Business. Lebih lagi untuk mengukuhkan IIFI sebagai lembaga pendidikan fashion berkualitas, IIFI menjalin kerja sama dengan Edexcel, sebuah lembaga sertifikasi dari Inggris yang mempunyai reputasi internasional. Ini artinya, ditambahkan Dono, kurikulum yang digunakan IIFI adalah sesuai yang dipakai oleh sekolah-sekolah fashion di Inggris.
Berbeda dengan kurikulum ESMOD dan LaSalle (di Jakarta), lanjut Dono, karena IIFI memakai kurikulum langsung dengan pendidikan tinggi Inggris. Jenjang pendidikan di IIFI mengacu pengertian pada produk pasar. ”Siswa dilatih dan dididik untuk memahami permintaan pasar. Di masa akhir pendidikan, siswa diuji coba membuat produk fashion sendiri di pasar retail. Jadi siswa tidak sekadar ahli mendesain baju, namun sekaligus mampu membuat produk yang ngejual,” ditegaskannya.
Dia mencontohkan kenapa produk Spanyol, Mango bisa bersaing di pasar internasional karena mereka telah memahami makna brand product. Pemahaman nilai brand product masih kurang di Indonesia, itulah mengapa desainer Indonesia masih jarang masuk ke pasar retail yang masih dominan dikuasai asing.
Di samping itu IIFI juga dirasa perlu untuk menjalin kerja sama dengan Prasetya Mulya, sebuah lembaga manajemen nasional yang menyelenggarakan program-program terkait dengan bisnis dan pengelolaan usaha.
IIFI menawarkan tiga program pengajaran, berupa fashion design, fashion merchandising, dan fashion journalistic. Struktur pendidikan yang digunakan IIFI, jelas bermaksud memudahkan siswa ketika nanti harus langsung menghadapi pasar fashion. Untuk itu, IIFI sengaja memakai kurikulum yang fleksibel dan adaptif.
Agar bisa memodifikasinya sesuai kebutuhan pasar lokal, demikian Dono, siswa harus juga menguasai sejarah fashion Indonesia. Dengan begitu, sambungnya, struktur kurikulum pendidikan tinggi yang dipakai tidaklah berpedoman tersendiri, karena diharapkan bisa membikin resep pengajaran berkombinasi antara desain fashion dan retailer, program diploma Inggris, dan pemahaman tentang brand product.
Dengan pertumbuhan industri aparel nasional yang menghasilkan nilai triliunan rupiah, jelas saja kini Indonesia semakin perlu memiliki perancang busana yang ahli sekaligus memahami usaha fashion, pandai mengelola bisnis dan sistem pemasaran, serta mampu melahirkan dan mengelola brand produk fashion.
Source : Copyright © Sinar Harapan 2003
News Update : Terkait berita di atas adalah IIFI untuk di tahun ini telah berganti nama menjadi Sekolah Mode Poppy Dharsono dan saat ini sudah berjalan 1 tahun.